SINGAPURA,poskota.net — Penguatan ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat ke level tertinggi dalam lebih dari setahun memberi dorongan positif bagi pengusaha garmen Malaysia, Chua Hunt.
Perusahaan milik Chua, D&R Garments Manufacturing, memiliki pabrik di Xiamen, China. Ringgi yang menguat membuat biaya impor kain menjadi lebih murah, sehingga perusahaannya bisa mendapatkan bahan berkualitas tinggi dengan harga bersaing.
“Perbaikan dari sisi biaya ini secara signifikan menutupi kendala ekspor,” ujar Chua, CEO D&R. “Secara strategis, hal ini memperkuat komitmen kami untuk meningkatkan kualitas dan margin, serta memperkokoh posisi perusahaan.”
Perusahaannya berencana memanfaatkan momentum penguatan ringgit dengan mempercepat siklus pengadaan, mengoptimalkan jadwal produksi di Malaysia dan China untuk efisiensi maksimum, serta menerapkan mekanisme harga yang fleksibel bagi klien internasional guna menjaga margin dan daya saing.
“Ringgit yang menguat adalah peluang,” kata Chua.
Menguatnya ringgit juga meningkatkan daya beli masyarakat di Malaysia. Manajer Hafiz Norzaman di dealer motor Yamaha Star Centre Singdeca Enterprise di Johor Bahru mencatat ada peningkatan pelanggan yang mengganti motor mereka ke model terbaru atau yang lebih bertenaga.
“Kami melihat pelanggan datang dari berbagai daerah, termasuk dari kota yang cukup jauh seperti Kulai, Senai, dan Kluang untuk mengganti motor mereka dengan model yang lebih nyaman,” ujarnya.
Dealer itu juga bisa menawarkan diskon yang lebih menarik berkat impor motor dan suku cadang lebih murah karena menguatnya ringgit.
Rebound ringgit dalam dua tahun terakhir terbilang mencolok. Per 11 November, ringgit menguat ke RM4,16 per US$1, berkebalikan dengan Februari 2024 ketika anjlok ke level terendah sejak Krisis Keuangan Asia akhir 1990-an, yakni RM4,79 per US$1.
Ringgit Malaysia juga mengungguli dolar Singapura dan pada 12 November menyentuh RM3,1642 per S$1, level terkuat dalam lebih dari setahun menurut laporan Maybank yang terbit pekan lalu.
Namun bagi eksportir dan pelaku pariwisata, penguatan ringgit berpotensi memicu pelemahan permintaan, menjadikan fluktuasi mata uang ini ibarat pisau bermata dua. Kendati demikian, analis menilai penguatan ringgit pada akhirnya tetap memberikan manfaat bagi Malaysia.
Menurut analis, penguatan ringgit disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan fundamental di dalam negeri.


































































