MEDAN,poskota.net —- Pernah satu tim di Pandan Sport pimpinan redaksi (pimred) poskota.net Erwin Silitonga,S.Sos. Mahyadi Panggabean adalah pemain sepak bola yang santun dan jarang buat pelanggaran.
Sosok Mahyadi Panggabean sangat mencuri hati di dunia sepakbola Sibolga (Persepsi) dari hasil Piala ASSA di Sibolga, pemain kaki kidal ini langsung di rekrut PSMS Medan dan langsung pemain inti dan memegang ban kapten.
Di sebuah kota pesisir bernama Sibolga, 8 Januari 1982, seorang anak bernama Mahyadi Panggabean tumbuh dengan kegemaran sederhana: menendang bola dari pagi hingga senja. Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana arah hidupnya waktu itu, selain satu hal yang pasti—ia tidak pernah kehabisan alasan untuk kembali ke lapangan.
Dari rumput kampung di Sumatera Utara, langkah Mahyadi bergerak semakin mantap ketika ia masuk PSMS Medan. Klub besar itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya di sepakbola Indonesia. Di sana, ia belajar disiplin, belajar keras, dan terutama belajar bahwa sepak bola bukan hanya permainan, tapi cara hidup.
Sebagai bek kiri, ia bukan tipe pemain yang banyak bicara. Namun gaya bermainnya selalu berbicara lebih keras: tekun, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Dari PSMS, kariernya merambat ke berbagai klub besar—Persik Kediri, Persela Lamongan, Gresik United, hingga Sriwijaya FC. Di setiap tempat, ia meninggalkan kesan yang sama: pemain yang tenang, pekerja keras, tidak banyak gaya, tetapi selalu bisa diandalkan saat pertandingan menuntut ketegasan.
Pintu tim nasional pun terbuka. Pada 17 November 2004, Mahyadi menjalani debutnya bersama Timnas Indonesia. Ia mungkin bukan yang paling bersinar dalam sorotan kamera, tetapi pelatih dan rekan-rekannya tahu bahwa ia adalah tipe pemain yang membuat tim terasa lebih utuh. Total 18 caps dan satu gol menjadi catatan resminya, tapi kontribusinya lebih luas daripada angka. Puncaknya, ia menjadi bagian dari skuad Indonesia di Piala Asia 2007, turnamen yang menjadi salah satu periode paling berkesan bagi penggemar sepakbola tanah air.
Waktu berjalan. Para pemain yang dulu bersamanya mulai gantung sepatu satu per satu, dan Mahyadi pun menyusul. Namun cinta pada sepakbola tak pernah benar-benar padam. Setelah masa bermain usai, ia memilih jalur yang tidak banyak berubah: tetap berada di pinggir lapangan, kali ini sebagai sosok pembimbing. Pada 2025, ia resmi menjadi bagian dari staf pelatih Sumsel United—sebuah babak baru yang menandai perjalanan panjangnya kembali ke akar: membangun, mendidik, dan memberi makna pada sepakbola dari sudut berbeda.
Kini, di usia 43 tahun, Mahyadi adalah contoh dari perjalanan yang tidak terburu-buru. Ia tidak pernah mencari gemerlap sorotan. Ia hanya mengikuti satu hal yang selalu setia menuntunnya sejak kecil: kecintaan pada permainan ini. Dari anak kecil di Sibolga hingga menjadi pemain tim nasional, lalu meneruskan warisan itu sebagai pelatih—kisahnya adalah tentang kesetiaan pada proses.
Dan mungkin, justru di situlah kekuatan seorang Mahyadi Panggabean: ia membuat kita ingat bahwa dalam sepak bola, seperti dalam hidup, ada sosok-sosok senyap yang bekerja dengan hati penuh, dan tanpa banyak suara justru meninggalkan jejak yang tahan lama.




































































