MEDAN,poskota.net —– Ada pemain yang lahir dari sorotan kamera, ada pula yang menempuh jalan sunyi—perlahan, tekun, dan tanpa tergesa—hingga akhirnya berdiri di jantung pertahanan tim nasional. Nama Tonggo Tambunan masuk dalam kategori kedua. Ia bukan tipe pemain yang sering mengisi headline, tetapi setiap pelatih yang pernah memanggilnya tahu satu hal: Tonggo adalah bek yang tidak pernah dipilih karena popularitas, melainkan karena kepercayaan.
Di era 1980-an—masa ketika sepak bola Indonesia dipenuhi karakter-karakter kuat dan kompetisi Galatama mulai menancapkan profesionalisme—Tonggo hadir sebagai sosok yang stabil, tenang, dan tak banyak bicara. Dari lapangan-lapangan keras kota Medan yang melahirkan banyak legenda, ia menempuh perjalanan panjang menuju Arseto Solo dan Tim Nasional Indonesia. Dan di antara langkah-langkah itu, tersimpan kisah tentang kerja keras, keteguhan, dan ketenangan yang menjadi ciri khasnya.
1. Akar yang Kokoh dari Medan
“Anak Medan” yang Direkrut oleh Tanah Sendiri
Tonggo Tambunan lahir di Medan pada 11 Maret 1959, ketika kota itu berada di puncak gairah sepak bola. Medan sudah lama dikenal sebagai salah satu dapur pemain paling keras di Indonesia—rumah bagi PSMS, klub legenda dengan lima gelar Perserikatan dan reputasi sebagai tim yang memadukan fisik baja dengan mental tak kenal takut.
Di sinilah Tonggo bertumbuh. Ia memulai semuanya dari lapangan-lapangan lokal yang tidak pernah benar-benar tidur. Sore berganti malam, suara sepatu menghantam tanah, dan sorakan kecil dari pinggir lapangan menjadi sekolah pertamanya.
Perjalanannya dimulai bersama PS Surya Sakti Medan, sebelum kemudian membela PSKB Binjai pada 1978. Dua klub ini mungkin tidak muncul dalam headline koran nasional, tetapi keduanya adalah batu loncatan penting. Pada masa itu, sepak bola Sumatera Utara ditopang oleh klub-klub lokal yang memiliki mata tajam dalam membaca bakat.
Tonggo kemudian naik satu tangga lagi: memperkuat Perisai dan masuk ke skuad Piala Suratin PSMS Medan—kompetisi yang di masa itu merupakan kiblat bagi talenta muda nasional. Di antara rekan-rekannya, nama Tonggo sering disebut sebagai “anak belakang yang tenang,” meski saat itu pamornya sempat kalah bersaing dari kiper muda PSMS, Eddy Harto.
Namun Tonggo tidak pernah berhenti. Tahun 1980–1981 ia menembus tim senior PSMS, sebuah perjalanan yang nyaris menjadi ritual bagi setiap anak Medan yang ingin disebut pemain sungguhan. Setelah itu ia masuk ke Pardedetex—klub kuat Sumut pada masa itu—yang menjadi batu loncatan sebelum dunia profesional memanggil namanya.
—
2. Pelatih-Pelatih yang Menempa Karakternya
Tonggo bukan pemain yang tercipta dalam semalam. Ia ditempa oleh tangan-tangan yang tepat.
Dua nama penting menjadi penemunya di Medan: Sulaiman Siregar dan Ramli Yatim. Keduanya dikenal sebagai pembentuk karakter—pelatih yang bisa melihat potensi sebelum pemainnya sendiri menyadarinya.
Tonggo juga merupakan anak didik Ipong Silalahi dan Yuswardi saat memperkuat Pita Sutra Medan. Dari merekalah ia belajar disiplin dan membaca permainan. Mereka melahirkan fondasi yang, kelak, membuat Tonggo tampil berbeda: seorang bek yang mengedepankan kecerdasan dan ketenangan.
—
3. Bek “Berdarah Dingin” yang Selalu Tenang di Tengah Badai
Bila ada satu frasa yang sering muncul ketika nama Tonggo dibahas, maka itu adalah “berdarah dingin.”
Ia bukan tipe stopper yang langsung menerjang. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan. Dan ia tidak pernah terlihat panik, bahkan ketika penyerang lawan sudah tinggal satu-dua langkah dari kotak penalti.
Di era 1980-an, ketika gaya permainan Perserikatan identik dengan tekel keras dan duel fisik tanpa kompromi, kehadiran Tonggo memberi angin baru: seorang bek yang menang lewat anticipasi dan pembacaan permainan.
Pelatih mencarinya karena satu hal: ia bisa membuat lini pertahanan terlihat lebih tenang. Rekan-rekan setimnya pun sering berkata bahwa bermain di samping Tonggo membuat mereka merasa aman—karena ia selalu berada di posisi yang benar.
Ciri khas itu membuatnya menonjol. Dan itu juga yang membawanya melaju ke Tim Nasional.
—
4. Langkah Besar ke Dunia Profesional: Galatama & Arseto Solo
Dari Sumatera ke Jakarta, Lalu ke Klub Ambisius yang Mengubah Masa Depannya
Tahun 1983 menjadi titik paling menentukan dalam karir Tonggo. Ia meninggalkan kenyamanan sebagai pemain Perserikatan dan hijrah ke Jakarta, bergabung dengan PT Tempo, sebelum kemudian direkrut oleh Tempo Utama.
Era itu adalah masa ketika Galatama mengubah wajah sepak bola Indonesia. Klub-klub profesional mulai lahir, pemain dibayar layak, dan perebutan talenta terbaik menjadi semakin ketat. Tonggo adalah bagian dari gelombang pemain Medan yang ditarik menuju profesionalisme.
Namun puncak karir klubnya terjadi ketika ia memperkuat Arseto Solo—klub ambisius yang sedang dibangun untuk menjadi kekuatan besar Galatama. Ketika Arseto menjuarai Piala Liga 1985, Tonggo adalah salah satu pilar pertahanan yang menopang pondasi sukses itu.
Ia datang saat klub baru membuka bab demi bab pendakian menuju kejayaan. Sebelum Ricky Yacob dan kawan-kawan mengangkat trofi Galatama 1992 atau menjuarai ASEAN Club Championship 1993, ada nama-nama seperti Tonggo yang memikul tugas membangun stabilitas tim.
Dalam catatan media masa itu, Tonggo sering disebut sebagai
“bekas andalan Pardedetex yang kini menjadi tulang punggung Arseto.”
Sebuah pengakuan yang jarang diberikan kepada pemain belakang.
—
5. Timnas Indonesia: Menjaga Garis Belakang Generasi Emas 1980-an
Tahun 1983, setelah tampil konsisten di Galatama, Tonggo dipanggil memperkuat PSSI Garuda, sebuah program elite yang menyiapkan pemain terbaik untuk kompetisi internasional.
Dan dua tahun kemudian, ia masuk ke dalam salah satu skuad paling ikonik dalam sejarah Indonesia: Timnas Kualifikasi Piala Dunia 1986 di bawah Sinyo Aliandoe.
Kampanye 1986 adalah salah satu perjalanan terbaik Timnas Indonesia sepanjang masa. Tim Merah-Putih menembus fase kedua kualifikasi, sebuah pencapaian yang jarang terulang hingga kini.
Dalam tim yang berisi nama-nama besar seperti Ponirin Meka, Ricky Yacob, dan sejumlah pemain Galatama papan atas, Tonggo hadir sebagai elemen pertahanan yang memberi ketenangan. Perannya mungkin tidak sekeras sorotan untuk striker atau kiper nasional, tetapi para pelatih tahu kontribusinya: stabilitas.
Ketenangannya sering menjadi penentu, terutama dalam pertandingan-pertandingan bertekanan tinggi di babak kualifikasi.
—
6. Tonggo dan Arus Sejarah Sepak Bola Indonesia
Karir Tonggo tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari pergeseran besar di sepak bola Indonesia—masa ketika Perserikatan dan Galatama berebut pengaruh, ketika kompetisi profesional mulai mendefinisikan arah baru, dan ketika pemain-pemain daerah seperti dirinya membuktikan bahwa bakat terbaik tidak selalu lahir di pusat.
Ia menjadi contoh bagaimana pemain bertahan dapat tampil berbeda tanpa kehilangan ketegasan; bagaimana kecerdasan taktis dapat menjadi senjata; dan bagaimana transisi karir dari Perserikatan menuju Galatama dapat membuka jalan menuju tim nasional.
—
7. Warisan Seorang Bek yang Tak Banyak Bicara
Tonggo Tambunan jarang muncul di sorotan media. Namun justru itulah warisan yang ia tinggalkan: kisah seorang pemain yang bekerja dalam diam, membangun reputasi lewat ketenangan, disiplin, dan kecerdasan.
Ia adalah bek yang mengingatkan bahwa permainan tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling keras, tetapi oleh mereka yang mampu membuat keputusan paling tepat pada detik yang paling menentukan.
Sebagian catatan pasca karirnya mungkin belum terungkap secara lengkap, tetapi masa keemasannya di tahun 1980-an sudah cukup untuk menempatkannya sebagai salah satu bek nasional terbaik yang pernah lahir dari tanah Sumatera Utara.
Tonggo Tambunan adalah wujud dari apa yang selama ini disebut orang-orang Medan sebagai “pemain jantan tapi kepala tetap dingin.”
Dan dalam sejarah sepak bola Indonesia, pemain seperti itu selalu bernilai langka.




































































