Jakarta,poskota.net — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pendidikan karakter menjadi fondasi utama dalam memperkuat kerukunan nasional di tengah keberagaman sosial, budaya, dan agama masyarakat Indonesia.
“Pendidikan karakter dan kewarganegaraan dalam membangun masyarakat yang kohesif ini sangat penting. Pertama, karena kita semua menyadari bahwa Indonesia dan juga masyarakat dunia hidup dalam lingkungan sosial budaya yang sangat plural, yang sangat majemuk, dan beragam,” ujar Mu’ti dikutip Antara, kemarin.
Hal tersebut dia sampaikan dalam webinar internasional bertajuk “Peran Guru dalam Memperkuat Pendidikan Karakter dan Kewarganegaraan dalam Membangun Masyarakat yang Kohesif” seperti diikuti di Jakarta, Senin (24/11).
Menurut dia, pluralitas merupakan anugerah yang harus dirawat melalui proses pendidikan yang inklusif dan berbasis nilai kebersamaan.
“Pluralitas merupakan realitas sekaligus kekayaan. Perbedaan memungkinkan kita saling belajar, memperluas perspektif, dan membangun jejaring sosial yang lebih kuat,” kata dia.
Sejauh ini, Mu’ti memandang keberagaman yang dimiliki Indonesia tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Menurutnya, masih terdapat sekat sosial, prasangka, dan batas interaksi yang membuat sebagian kelompok belum dapat berbaur secara alami. Oleh karena itu, ia menilai pendidikan karakter bernilai penting untuk membangun budaya saling menghormati dan menerima perbedaan.
Mu’ti menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan sekolah. Ia menekankan sekolah harus berfungsi sebagai titik pertemuan dan berbaur bagi siswa dari berbagai latar belakang.
“Sekolah harus menjadi ruang di mana keberagaman dipertemukan, bukan tempat yang memperkuat segregasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa nilai kerukunan tidak bisa hanya diajarkan secara konseptual, tetapi juga harus dibiasakan melalui pengalaman langsung dan pola interaksi positif di sekolah. Untuk itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menghadirkan program Tujuh Kebiasaan Anugerah Hebat, yang tidak hanya menanamkan disiplin dan gaya hidup sehat, tetapi juga membangun kebiasaan bermasyarakat.
Kebiasaan bermasyarakat tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke komunitas berbeda, kegiatan lintas iman, serta aktivitas kolaboratif yang memungkinkan siswa mengenal kehidupan kelompok lain secara lebih dekat.
“Kerukunan harus menjadi budaya dan sistem nilai yang kita bangun bersama,” kata dia.
(ANT)







































































