DEPOK | POSKOTA.NET – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kembali dimaknai lebih dari sekadar ritual keagamaan. Momentum spiritual tersebut dinilai sebagai pengingat penting tentang nilai amanah, integritas, dan tanggung jawab sosial yang kian relevan di tengah dinamika kehidupan masyarakat dan kepemimpinan modern.
Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Depok, Mazhab HM, menegaskan bahwa Isra Mi’raj menyimpan pesan moral yang sangat kuat, khususnya terkait makna amanah dalam setiap peran kehidupan. Ia menilai, peristiwa agung perjalanan Rasulullah SAW bukan hanya tentang dimensi ibadah, tetapi juga refleksi etika dan integritas yang harus dihidupkan dalam kehidupan sosial.
“Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa setiap jabatan dan peran adalah titipan. Amanah itu bukan simbol kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, baik di hadapan manusia maupun Allah SWT,” ujar Mazhab, Jumat (16/1/2026).
Mazhab mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang menegaskan perintah untuk menunaikan amanah kepada yang berhak serta menegakkan keadilan dalam setiap keputusan. Menurutnya, ayat tersebut merupakan fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang beretika dan kehidupan bermasyarakat yang berkeadaban.
Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pesan ini, kata Mazhab, menegaskan bahwa amanah bukan hanya milik pejabat publik, tetapi melekat pada setiap individu sesuai perannya—baik sebagai orang tua, pekerja, maupun anggota masyarakat.
“Tidak ada amanah yang sepele. Kejujuran dalam bekerja, disiplin dalam aturan, serta kepedulian terhadap sesama adalah cermin tanggung jawab yang menentukan kualitas kehidupan sosial,” ungkapnya.
Di tengah berbagai tantangan sosial, krisis kepercayaan publik, hingga persoalan etika dalam birokrasi dan kehidupan bermasyarakat, Mazhab menilai pesan Isra Mi’raj justru semakin kontekstual. Banyak persoalan sosial, menurutnya, berakar dari rapuhnya kesadaran akan nilai amanah dan tanggung jawab moral.
Ia menekankan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar atau kekuasaan, melainkan dari kesediaan setiap individu untuk melakukan muhasabah—evaluasi diri yang jujur terhadap sikap dan perilaku sehari-hari.
“Isra Mi’raj mengajak kita bercermin. Sejauh mana amanah sudah kita jalankan dengan benar? Dari kesadaran itulah perbaikan sosial bisa dimulai,” tegasnya.
Mazhab juga menyoroti pentingnya menjadikan nilai-nilai Isra Mi’raj sebagai bagian dari pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda. Penanaman kejujuran, tanggung jawab, dan integritas sejak dini dinilai krusial dalam membentuk generasi yang berakhlak kuat dan memiliki kepedulian sosial.
Melalui momentum Isra Mi’raj, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menata kembali niat dan memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga amanah masing-masing. Keteladanan Rasulullah SAW, menurutnya, harus diwujudkan dalam tindakan nyata—baik dalam kebijakan, sikap kepemimpinan, maupun interaksi sosial sehari-hari.
“Jika amanah dijaga bersama, oleh pemimpin dan masyarakat, maka kepercayaan sosial akan tumbuh dan kehidupan berjalan lebih adil serta bermartabat. Itulah hakikat dan spirit sejati Isra Mi’raj,” pungkasnya.(Yopi)







































































