MEDAN,poskota.net —– Pada suatu sore awal musim hujan di Medan, orang-orang masih sering menyebut satu nama dengan nada penuh nostalgia: Mourmada Ndadjingar Marco. Sosok jangkung berpostur 1,86 meter itu hadir di ingatan publik bukan sekadar sebagai pemain asing, tapi sebagai bagian dari era ketika stadion-stadion Sumatera berdenyut oleh sorak dan debu tanah lapangan. Marco—begitu ia akrab disapa—menjadi cerita yang tetap bertahan, meski musim terus berganti.
Lahir pada 12 Desember 1976 di N’Djamena, ibu kota Chad, Marco tumbuh di lingkungan yang membesarkan anak-anak lewat permainan sederhana: bola plastik, lapangan seadanya, dan ambisi besar yang lahir dari keterbatasan. Dari sanalah ia memupuk mimpi yang akhirnya membawanya berkeliling benua, dari Afrika Tengah ke Afrika Selatan, hingga akhirnya menjejak tanah yang kelak mencintainya—Indonesia.
Awal Perjalanan: Dari Gazelle FC hingga Menyeberang Benua
Karier profesional Marco dimulai bersama Gazelle FC pada 1992, klub yang mengantar langkahnya menuju level yang lebih tinggi. Setelah tiga tahun, ia merantau ke Afrika Selatan untuk membela Witbank Aces. Di sanalah ia menempa diri sebagai gelandang serang dengan karakter khas: bekerja dalam diam, namun selalu meninggalkan bekas.
Gaya bermainnya tak banyak basa-basi. Ia bukan tipe pemain yang sibuk mengangkat tangan atau menunjukkan gestur berlebihan. Marco bekerja lewat pergerakan tanpa bola, penempatan posisi yang nyaris selalu tepat, dan ketenangan yang jarang dimiliki gelandang serang pada masanya. Jika ada ruang seujung sepatu di depan kotak penalti lawan, ia bisa mengubahnya menjadi gol.
Mendarat di Indonesia: Medan, Tempat di Mana Namanya Menjadi Cerita
Musim 1997–1998, Marco tiba di Indonesia untuk bergabung dengan Medan Jaya. Keputusan itu menjadi titik balik. Dalam 28 penampilan, ia mencetak 11 gol, dan publik mulai menengok pemain asing dari Chad ini dengan lebih serius. Musim itu menjadi gerbang menuju reputasi yang lebih besar.
Pada 1998, PSPS Pekanbaru merekrut Marco—menjadikannya salah satu dari tiga pemain asing pertama dalam sejarah klub. Dua musim berseragam biru membuatnya semakin dikenal di wilayah Riau dan Sumatera. Di sana, ia mencetak 4 gol dari 25 penampilan, tetapi lebih dari itu, ia menawarkan ketenangan di lini tengah yang menjadikan PSPS lebih percaya diri menghadapi kompetisi nasional yang kala itu begitu keras dan fisikal.
Namun panggung terbesarnya tak lain adalah PSMS Medan—klub yang kelak membuat namanya melekat dalam romantika sepak bola Indonesia.
PSMS Medan: Di Sini, Marco Menjadi “Ayam Kinantan” Sejati
Jika suatu hari Anda bertemu penggemar PSMS yang pernah menghabiskan malam di tribun Lapangan Teladan awal 2000-an, cobalah sebut nama Marco. Biasanya, mata mereka akan berbinar. Marco bukan sekadar pemain; ia adalah roh di lini depan, bomber terlambat yang lahir dari posisi gelandang serang.
Bersama PSMS, kariernya berjalan dalam tiga periode: 2000–2001, 2002–2003, dan 2004–2005. Total puluhan pertandingan ia jalani dengan produktivitas yang nyaris tak masuk akal untuk seorang gelandang: 8 gol, kemudian musim fenomenal dengan 17 gol, dan ditutup 8 gol lainnya pada periode ketiga.
Puncaknya tiba pada Liga Bank Mandiri 2001, ketika ia menjadi salah satu pemain paling produktif PSMS. Keberanian, naluri gol, dan ketenangan—semuanya bersatu menjadikan Marco andalan yang tak tergantikan.
Di Medan, ia menemukan rumah kedua. Di sana pula publik memberikan penghormatan tersendiri: “Marco bukan hanya pemain asing. Ia Ayam Kinantan.”
Singgah ke Luar Negeri dan Kembali Lagi
Di antara masa-masanya bersama PSMS, Marco sempat berkarier di Hong Kong bersama Sun Hei (2001–2002), mencetak 2 gol dari 25 laga. Pengalaman internasional itu justru membuatnya semakin matang, sebelum akhirnya Indonesia kembali memanggil, melalui Pelita Jaya pada 2003–2004.
Gaya Bermain: Gelandang Serang dengan Naluri Penyerang
Marco adalah gelandang yang bermain seperti penyerang, atau penyerang yang menyamar sebagai gelandang—tergantung bagaimana Anda melihatnya. Ia bukan pemain flamboyan, namun instingnya tajam dan kehadirannya di kotak penalti hampir selalu berbahaya.
Publik sering bertanya, “Kenapa Marco bisa selalu muncul di tempat yang tepat?”
Jawabannya sederhana: ia membaca pertandingan seperti buku terbuka.
Energinya tak meledak-ledak, tetapi dalam setiap langkahnya, ada disiplin dan ketegangan. Dalam sunyi, ia menjadi pembunuh mematikan bagi lawan.
Jejak Singkat di Tim Nasional Chad
Sebelum semua cerita di Indonesia dimulai, Marco sempat mencatatkan satu penampilan untuk Tim Nasional Chad pada 1992. Singkat, tetapi menjadi bukti bahwa talentanya diakui sejak usia belia.
Warisan Tanpa Banyak Kata
Tidak semua pemain meninggalkan tanda lewat selebrasi megah atau pernyataan lantang. Marco meninggalkan jejak lewat gol, kerja keras, dan cara ia membuat sebuah kota—Medan—selalu mengingatnya dengan hangat.
Dari lapangan di N’Djamena hingga sorak di tribun Teladan, perjalanan Mourmada Marco adalah kisah tentang bagaimana seorang pemain asing datang bukan hanya untuk bermain, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sebuah komunitas.
Dengan caranya yang tenang, ia telah menulis satu bab penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Dan bagi mereka yang pernah melihatnya bermain, Marco akan selalu menjadi:
“Bomber yang lahir dari lini tengah, dan legenda yang lahir dari kesederhanaan.”




































































