(rt / rgy)
Sebuah rumah pernah bocor saat hujan deras. Atapnya kemudian diperbaiki dan bagian yang rusak diganti. Setelah itu, rumah tersebut terlihat baik-baik saja. Tetapi ketika hujan turun lagi, pemilik rumah mungkin masih merasa khawatir. Ia tahu atapnya sudah diperbaiki, tetapi pengalaman sebelumnya membuatnya tetap waspada.
Begitu juga dengan hati kita. Ada luka yang sebenarnya sudah kita mengerti. Kita tahu apa yang terjadi. Kita tahu orang yang menyakiti kita mungkin punya alasan. Kita juga tahu bahwa menyimpan marah dan kecewa terlalu lama tidak baik bagi diri sendiri. Bahkan kita tahu bahwa mengampuni adalah hal yang benar. Tetapi ketika mengingat kejadian itu, hati masih terasa sakit.
Mengapa?
Karena *mengerti dengan pikiran tidak selalu membuat hati langsung sembuh.*
Kita sering berpikir, “Aku kan sudah tahu harus mengampuni. Mengapa aku masih sakit?” Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Luka hati tidak selalu hilang hanya karena kita sudah mengetahui apa yang seharusnya dilakukan.
Ada luka yang membutuhkan waktu. Ada kenangan yang perlu kita lepaskan sedikit demi sedikit. Ada rasa kecewa yang tidak bisa hilang dalam satu malam.
Daud berkata, “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mazmur 147:3). Ayat ini mengingatkan kita bahwa Elohim peduli pada hati yang terluka. Kita tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Kita bisa datang dengan hati yang masih sedih, kecewa, atau belum mampu melupakan.
Yang penting, jangan berhenti berjalan. Jangan terus hidup di masa lalu. Serahkan luka itu kepada Elohim dan biarkan Dia bekerja dalam hati kita. Mungkin hari ini masih terasa sakit, tetapi suatu hari kita akan menyadari bahwa sesuatu sudah berubah. Kita masih ingat kejadiannya, tetapi tidak lagi merasa hancur karenanya.
*Mengerti adalah langkah pertama. Pulih membutuhkan waktu. Dan selama kita berjalan bersama Elohim, luka yang pernah menyakitkan tidak harus terus menguasai kehidupan kita.*







































































