‘Tangsel PosKota Net
8 Agustus 2026 — Musyawarah Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah tangsel (BEM UMJ) yang berlangsung di Aula Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah tangasel berakhir ricuh pada Sabtu dini hari (8/8/2026). Jam 16,00 Forum yang dimulai pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB tersebut
Kejadian berlangsung hingga situasi memanas dan kericuhan terjadi sekitar pukul 03.00 WIB.
Musyawarah mahasiswa yang seharusnya menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi,
Pembahasan persoalan organisasi, serta mengambil keputusan secara demokratis berubah menjadi situasi penuh ketegangan. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan dalam forum tersebut adalah dugaan penyelewengan dana kemahasiswaan yang disebut mencapai Rp144 juta.
Persoalan mengenai dana tersebut menjadi bahan pertanyaan dalam forum. Mahasiswa mempertanyakan bagaimana dana dikelola, digunakan, serta dipertanggungjawabkan oleh organisasi. Transparansi anggaran kemudian menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam jalannya musyawarah.
Dalam situasi yang semakin memanas, Ketua BEM UMJ Muhammad Iqbal Ramdhani disebut sempat mendapat amukan dari mahasiswa lainnya. Ketegangan tersebut terjadi ketika pembahasan mengenai persoalan organisasi dan dana berlangsung dalam forum.
Di tengah situasi tersebut, Iqbal disebut menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab atas hal yang dipersoalkan. Ia juga disebut bersedia menuangkan bentuk pertanggungjawaban tersebut dalam sebuah pernyataan tertulis dan membubuhkan tanda tangan di atas materai.
Meski demikian, informasi mengenai dugaan penyelewengan dana sebesar Rp144 juta masih perlu diklarifikasi dan dibuktikan secara lebih lanjut. Penyebutan angka tersebut dalam forum tidak serta-merta membuktikan telah terjadi tindak pidana korupsi. Kepastian mengenai penggunaan dana perlu didasarkan pada dokumen keuangan, laporan pertanggungjawaban, bukti transaksi, serta pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang terkait.
Salah satu mahasiswa yang diwawancarai terkait peristiwa tersebut adalah Rifal Fathu Rosyid,mahasiswa KPI UMJ.Keterangan Rifal menjadi salah satu sumber informasi mengenai jalannya musyawarah, pembahasan persoalan dana, serta situasi yang terjadi hingga forum berakhir ricuh.
Persoalan transparansi dana menjadi penting karena dana kemahasiswaan berkaitan dengan kepentingan mahasiswa dan organisasi. Setiap penggunaan dana seharusnya dapat dijelaskan melalui mekanisme pertanggungjawaban yang jelas dan terbuka. Laporan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai dokumen administratif, tetapi juga menjadi bentuk pertanggungjawaban pengurus kepada mahasiswa.
Kericuhan yang terjadi sekitar pukul 03.00 WIB menunjukkan bahwa persoalan yang dibahas dalam forum telah berkembang menjadi ketegangan serius. Padahal, musyawarah mahasiswa seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog.
Dengan adanya dugaan penyelewengan dana sebesar Rp144 juta dan pernyataan kesediaan bertanggung jawab dari Ketua BEM UMJ, mahasiswa membutuhkan kejelasan mengenai fakta serta mekanisme penyelesaian persoalan tersebut. Transparansi data, pemeriksaan keuangan, dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait diperlukan agar persoalan tidak berhenti pada tuduhan maupun pernyataan di dalam forum.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa organisasi mahasiswa membawa amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Demokrasi dalam organisasi tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan musyawarah dan pengambilan keputusan, tetapi juga keberanian untuk membuka informasi, menerima kritik, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan serta penggunaan dana kepada mahasiswa.
(Fo15)







































































