Tangsel PosKota Net
Trotoar di Jalan Bintaro Jaya tengah hangat diperbincangkan di media sosial, khususnya Instagram, menyusul viralnya video seorang bapak-bapak yang membawa stroller atau kereta bayi terpaksa turun ke jalan raya karena merasa tidak bisa lewat di trotoar. Kejadian ini, yang terjadi pada Rabu, 22 Juli 2026 pukul 10.10 pagi, memicu kritik tajam terhadap fasilitas pejalan kaki dan pengelolaan jalur umum di kawasan tersebut.
Dalam kunjungan langsung ke lokasi, saya menemui petugas patroli keamanan, bapak Sudianto dan Rian, untuk menanyakan soal penggunaan bollard atau pembatas yang dipasang di trotoar. Menurut pak Rian, pemasangan bollard bertujuan untuk menjaga kenyamanan pejalan kaki sekaligus melindungi mereka dari risiko kecelakaan akibat kendaraan bermotor yang masuk ke jalur pejalan kaki. Selain itu, trotoar juga harus melayani pesepeda sehingga pembatas menjadi solusi agar motor tidak mengganggu.
Namun, pak Sudianto mengakui bahwa meski sudah dipasang plang dan bollard, masih ada saja pengendara motor yang nekat menerobos trotoar. Hal ini menunjukkan lemahnya penegakan aturan dan pengawasan di lapangan sehingga menciptakan ketidaknyamanan bagi pengguna trotoar. Kondisi ini semakin memperparah masalah bagi orang tua yang membawa stroller, karena mereka harus memilih turun ke jalan raya yang berbahaya.
Saya juga berbincang dengan warga sekitar, mas Rohali, yang ikut menyoroti fenomena ini. Ia mempertanyakan mengapa stroller atau kereta dorong bayi tidak difasilitasi dengan baik di trotoar tersebut sehingga terpaksa harus turun ke jalan. Menurut Rohali, biasanya pada akhir pekan maupun hari biasa banyak orang tua yang membawa anak kecil dengan stroller, dan seharusnya pengelola Bintaro Jaya dapat memberikan perhatian lebih agar jalur pejalan kaki nyaman dan aman untuk semua usia.
Kejadian ini memperlihatkan bahwa pengelolaan infrastruktur trotoar di Bintaro Jaya belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan warganya. Pemasangan bollard memang penting, tetapi tanpa perbaikan desain trotoar yang ramah pengguna, terutama bagi keluarga dengan anak kecil, maka persoalan seperti ini akan terus berulang. Pengelola kawasan harus segera mengkaji ulang kebijakan pembatasan jalur pejalan kaki agar tidak justru mengorbankan keselamatan dan kenyamanan warga.
Sebagai kawasan hunian yang berkembang pesat, Bintaro Jaya wajib memberikan prioritas utama bagi pejalan kaki dan kelompok rentan, termasuk orang tua dengan bayi. Tidak cukup hanya sekadar memasang pembatas fisik tanpa memastikan akses yang mudah dan aman bagi seluruh warga. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mencederai citra Bintaro Jaya sebagai kawasan modern, tapi juga membahayakan keselamatan masyarakat sehari-hari yang menggunakan trotoar sebagai sarana mobilitas utama mereka.
(Fo15)







































































