TANGERANG —— Gunung tidak iri pada laut. Laut tidak iri pada langit. Masing-masing memiliki tempat, bentuk, dan keindahannya sendiri. Gunung tidak berusaha menjadi laut, dan laut tidak pernah merasa harus menjadi langit.
Namun manusia sering berbeda.
Kita mudah gelisah ketika melihat kehidupan orang lain. Ketika melihat seseorang lebih berhasil, kita merasa tertinggal. Ketika melihat orang lain memiliki lebih banyak, kita merasa kekurangan. Ketika melihat perjalanan orang lain tampak lebih mudah, kita mulai mempertanyakan perjalanan kita sendiri.
Tanpa sadar, kita sedang *menggunakan ukuran orang lain untuk menilai kehidupan kita.*
Padahal setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang diberi kesempatan lebih cepat, ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang hidupnya terlihat penuh keberhasilan, sementara keberhasilan orang lain mungkin justru tersembunyi dalam kesetiaan, keluarga yang harmonis, kesehatan, persahabatan, atau hati yang tetap tenang.
Sering kali kita hanya melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi tidak melihat apa yang harus mereka lalui untuk mendapatkannya.
Pengkhotbah mengingatkan:
«“Lebih baik melihat apa yang di depan mata dari pada menjelajah keinginan.”
Pengkhotbah 6:9»
Ayat ini mengajarkan kita untuk menghargai apa yang ada di hadapan kita, daripada terus mengejar sesuatu hanya karena melihat kehidupan orang lain.
Ibrani 13:5 juga berkata:
«“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”»
Merasa cukup bukan berarti berhenti bertumbuh. Merasa cukup berarti mampu bersyukur sambil tetap berusaha menjadi lebih baik.
Gunung tidak perlu menjadi laut untuk menjadi indah. Laut tidak perlu menjadi langit untuk memiliki nilai. Demikian pula kita tidak perlu menjadi seperti orang lain untuk membuat hidup kita berarti.
*Jangan-jangan selama ini bukan hidup kita yang kurang indah, tetapi cara kita mengukurnya yang keliru.*
Berhentilah terlalu sering melihat ke samping. Pandanglah apa yang telah Elohim percayakan kepada kita, rawat dengan setia, syukuri dengan tulus, dan jalani dengan sebaik-baiknya.
Sebab hidup akan terasa jauh lebih damai ketika kita berhenti bertanya, “ *Mengapa aku tidak seperti dia?”* dan mulai berkata, “ *Terima kasih Elohim, untuk kehidupan yang telah Engkau percayakan kepadaku.”*







































































