_Ps. Philip Buulolo_
Dalam banyak hal, gereja memang perlu dikelola dengan baik. Dibutuhkan perencanaan, administrasi, pengelolaan keuangan yang sehat, pembagian tugas yang jelas, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Semua itu penting agar pelayanan dapat berjalan dengan tertib.
Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: gereja bukan perusahaan.
Perusahaan berorientasi pada keuntungan. Gereja berorientasi pada jiwa. Perusahaan mengukur keberhasilan terutama melalui angka. Gereja mengukur keberhasilan melalui pertumbuhan rohani, pemuridan, dan kehidupan yang diubahkan oleh Tuhan.
Perusahaan dapat memilih pelanggan yang menguntungkan.
Gereja dipanggil untuk melayani semua orang, termasuk mereka yang lemah, terluka, dan tidak dapat memberi keuntungan apa pun secara materi.
Ketika gereja mulai berpikir seperti perusahaan, ada bahaya yang perlu diwaspadai. Jemaat bisa dipandang sebagai aset. Pelayanan bisa dinilai hanya dari produktivitasnya. Keberhasilan bisa diukur semata-mata dari jumlah, popularitas, atau pemasukan.
Padahal setiap jemaat adalah jiwa yang dikasihi Tuhan, bukan angka dalam laporan. Mereka bukan target pasar, melainkan domba-domba yang perlu digembalakan.
Tentu gereja tetap perlu belajar tentang manajemen yang baik. Ketertiban bukan musuh kerohanian. Namun manajemen harus menjadi alat untuk mendukung pelayanan, bukan menggantikan hati seorang gembala.
Tuhan Yesus tidak memanggil murid-murid-Nya untuk membangun perusahaan. Ia memanggil mereka untuk menggembalakan, memuridkan, melayani, dan mengasihi. Hubungan antara pemimpin dan jemaat bukan hubungan antara manajer dan pelanggan, melainkan antara gembala dan domba.
Karena itu, gereja harus berhati-hati agar tidak kehilangan identitasnya. Jangan sampai efisiensi lebih penting daripada kasih. Jangan sampai pencapaian lebih penting daripada pemuridan. Jangan sampai pertumbuhan angka lebih diperhatikan daripada pertumbuhan iman.
Gereja memang perlu dikelola dengan baik. Tetapi pada akhirnya, gereja tetap adalah tubuh Kristus, keluarga Allah, dan komunitas orang-orang yang telah diselamatkan oleh anugerah-Nya.
Sebab yang membuat gereja berbeda dari perusahaan bukanlah gedungnya, programnya, atau organisasinya, melainkan Kristus yang menjadi Kepala Gereja.
“Kamulah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (1 Korintus 12:27)







































































