JAKARTA | POSKOTA.net — Sektor industri tercatat menyumbang 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2025, sekaligus menyerap lebih dari 40 persen konsumsi energi nasional. Besarnya peran strategis ini mendorong urgensi proses produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan green chemistry (kimia hijau) untuk mengoptimalkan sumber daya serta menekan limbah dan bahan berbahaya.
Memasuki semester kedua 2026, Universitas Pertamina (UPER) memperkuat pengembangan riset dan kolaborasi lintas sektor di bidang kimia hijau guna menjawab kebutuhan industri nasional. Langkah ini melanjutkan berbagai inisiatif yang telah dikembangkan UPER sejak ditunjuk sebagai koordinator nasional Global Greenchem Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia pada 2024.
Sebagai wujud komitmen tersebut, UPER bersama GGINP Indonesia menggelar Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2026 di Makassar pada Juli 2026. Forum ini mempertemukan 50 pelaku industri dari 31 perusahaan dan institusi untuk menjembatani inovasi akademis dengan kebutuhan aktual di lapangan.
Direktur Industri Kimia Hijau Kementerian Perindustrian, Wiwik Pudjiastuti, menyampaikan bahwa transformasi industri hijau memerlukan sinergi erat antara kebijakan pemerintah dan inovasi riset.
”GCIE menjadi ruang untuk membawa green chemistry dari pengetahuan menuju penerapan nyata di industri. Dengan proses yang lebih efisien dan penggunaan sumber daya yang optimal, industri dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing,” ujar Wiwik saat membuka GCIE 2026.
Inovasi Bioetanol hingga Edukasi Sekolah
Selain forum industri, penguatan ekosistem dilakukan melalui Greenovate Challenge 2026: Green Chemistry Policy Challenge. Kompetisi ini menantang generasi muda menyusun policy brief terkait pengembangan industri bioetanol nasional, mencakup rantai pasok, teknologi, hingga ketersediaan bahan baku.
Director of Accelerator Program GGINP Indonesia sekaligus Dosen Kimia UPER, Dr. Eng. Paramita Jaya Ratri, M.Si., menekankan pentingnya gagasan segar dari inovator muda untuk membedah persoalan industri dan menerjemahkannya menjadi rekomendasi kebijakan yang relevan.
Sektor pendidikan dasar juga disasar melalui pelatihan bagi 38 guru kimia dari 32 SMA/sederajat di Makassar. Para guru dibekali metode pembelajaran kimia hijau yang praktis, seperti pembuatan indikator pH berbasis bahan alami (kol ungu dan bunga telang).
Jejaring kolaborasi kian solid lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UPER, PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA), dan Universitas Hasanuddin guna mendukung riset terapan di kawasan industri.
Fokus Kepemimpinan Baru
Memasuki masa kepemimpinannya sebagai Rektor Universitas Pertamina per Agustus 2026, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra menegaskan komitmennya untuk memperluas komersialisasi riset kampus ke sektor manufaktur dan energi.
”UPER memiliki kekuatan pada kedekatan dengan ekosistem industri, khususnya sektor energi dan teknologi. Ke depan, kami ingin memperluas riset bersama industri, mendorong uji coba inovasi kimia hijau, serta melibatkan mahasiswa dalam mencari solusi nyata,” kata Prof. Ichsan.
Ia menambahkan, melalui wadah GGINP Indonesia, riset yang lahir dari perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti di laboratorium, melainkan mampu memberikan nilai tambah langsung bagi daya saing industri nasional.







































































