JAKARTA – POSKOTA.net – Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang besar bagi lahirnya wirausaha muda di Indonesia. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan tren ekonomi kreatif yang terus tumbuh, masih banyak generasi muda yang kesulitan mengubah ide serta hobi menjadi usaha yang mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Pertamina bersama J&T Connect Preneur dan Narasi menggelar diskusi bertajuk “The Digital Native: Mastering Hype, Creativepreneurship, and Business Execution”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (9/6) itu mendapat antusiasme tinggi dengan lebih dari 800 peserta yang mendaftar untuk mengikuti forum inspiratif tersebut.
Dalam kesempatan itu, kreator konten dan penulis ternama, Raditya Dika, mengingatkan bahwa kreativitas harus dibarengi dengan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat. Menurutnya, banyak ide menarik yang gagal berkembang karena tidak memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pasar.
Raditya menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak selalu lahir dari modal besar atau kemampuan yang serba bisa. Sebaliknya, keberanian memulai, konsistensi berkarya, serta kemampuan membaca masalah di sekitar menjadi faktor penting dalam membangun bisnis yang memiliki nilai ekonomi.
Ia juga menekankan pentingnya mengenali kekuatan diri. Fokus pada satu keahlian yang benar-benar dikuasai dinilai lebih efektif dibanding mencoba menguasai terlalu banyak bidang sekaligus tanpa arah yang jelas.
Senada dengan hal tersebut, CEO brand parfum lokal HMNS, Rizky Arief, mengajak peserta untuk melihat passion sebagai sesuatu yang dapat dibangun melalui proses panjang, bukan sekadar bakat alami yang dimiliki sejak lahir.
Menurut Rizky, peluang usaha sering kali muncul dari persoalan yang dialami banyak orang. Ketika seseorang mampu menghadirkan solusi yang tepat, di situlah terbentuk potensi pasar yang dapat dikembangkan menjadi bisnis.
Ia menambahkan, persaingan bisnis di era digital semakin kompleks. Sebuah produk bisa meraih popularitas dalam waktu singkat, namun juga dapat kehilangan perhatian pasar dengan cepat akibat perubahan tren dan perilaku konsumen.
Karena itu, pelaku usaha dituntut untuk terus belajar memahami pasar, melakukan evaluasi, serta beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Kemampuan membaca data dan memahami kebutuhan konsumen menjadi bekal penting agar bisnis tetap relevan dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Penjabat Sementara Rektor Universitas Pertamina, Prof. Ir. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Universitas Pertamina menghadirkan program Inkubasi Bisnis yang memberikan pendampingan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ide inovatif menjadi usaha yang memiliki peluang sukses di pasar.
Hingga tahun 2025, program tersebut telah mendampingi 62 tim usaha mahasiswa dengan total dukungan pendanaan mencapai Rp180 juta. Melalui berbagai program pengembangan kewirausahaan, Universitas Pertamina terus mendorong lahirnya entrepreneur muda yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era ekonomi digital.
Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan inspirasi dari para pelaku industri, tetapi juga pemahaman bahwa keberhasilan bisnis lahir dari kombinasi kreativitas, keberanian mengambil langkah, serta kemampuan mengeksekusi ide menjadi solusi yang dibutuhkan masyarakat.(Yopi)







































































