25 Juni 2026 Harga telur di pasaran kembali merosot tajam hingga menyentuh level terendahnya. Kondisi ini membuat sejumlah peternak dan agen telur merasa gelisah menghadapi ketidakstabilan harga yang semakin parah. Sementara itu, harga pakan ternak justru terus mengalami kenaikan, menambah beban biaya produksi mereka.
25Zaki, salah satu agen telur, mengungkapkan bahwa meskipun harga telur anjlok, persaingan harga di pasar justru semakin ketat. Harga telur dari kandang saat ini dipatok sekitar Rp22.500 per kilogram untuk pembelian partai besar. Sedangkan harga di tingkat agen berkisar Rp24.000, bahkan ada pengecer yang menjual dengan harga antara Rp25.000 hingga Rp27.000 per kilogram.
Menurut Zaki, kondisi pasar yang tidak stabil ini sangat merugikan para peternak. “Peternak berharap harga telur bisa stabil, terutama menyesuaikan dengan harga pakan yang sulit turun,” katanya. Kenaikan harga pakan ternak yang terus berlanjut tanpa disertai kenaikan harga telur yang seimbang membuat keuntungan peternak semakin tipis.
Ironisnya, harga telur sering kali naik-turun secara cepat tanpa alasan yang jelas, sementara harga pakan cenderung monoton naik. Ketidakpastian ini menyebabkan peternak kesulitan dalam mengatur strategi produksi maupun pemasaran agar tetap menguntungkan.
Pemerintah dan pihak terkait perlu segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur supaya tidak menjadi bahan spekulasi pasar yang merugikan peternak kecil. Jika dibiarkan, harga telur yang terus merosot tanpa diimbangi dukungan harga pakan yang wajar akan menghancurkan usaha peternakan rakyat.
Harapan besar disampaikan oleh Zaki agar ke depan kondisi pasar telur dapat membaik dan memberikan kepastian harga yang adil bagi semua pihak mulai dari peternak hingga konsumen. Hanya dengan stabilitas harga yang terjaga, peternakan telur Indonesia bisa berkembang secara berkelanjutan dan menguntungkan.







































































