JAKARTA | POSKOTA.net – Perkembangan teknologi digital terus membuka peluang baru bagi dunia konstruksi. Hal itu dibuktikan oleh tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina (UPER) yang berhasil mengembangkan inovasi berbasis **Augmented Reality (AR)** dan **Building Information Modeling (BIM) 5D** untuk meningkatkan efisiensi pembangunan rumah tinggal.
Inovasi tersebut lahir dari Tim Crystal yang beranggotakan Dimas Agim Jamiat, Fikri Andika Ramadani, dan Fasha Al Ihsan. Berkat gagasan tersebut, mereka sukses meraih Juara I pada ajang **Civil National Expo (CNE) 2026**, mengungguli 78 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Teknologi yang mereka kembangkan menawarkan cara baru dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Seluruh informasi penting, mulai dari desain bangunan, kebutuhan material, jadwal pelaksanaan hingga estimasi biaya, disatukan dalam sistem BIM 5D. Data tersebut kemudian ditampilkan melalui teknologi Augmented Reality sehingga pekerja dapat melihat visualisasi bangunan secara langsung di lokasi sebelum pekerjaan dimulai.
Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi berbagai persoalan yang selama ini menjadi penyebab utama pembengkakan biaya proyek, seperti kesalahan pemasangan, perubahan desain di tengah pekerjaan, hingga pekerjaan ulang (*rework*). Masalah tersebut masih sering ditemukan pada proyek pembangunan rumah tinggal yang mendominasi aktivitas konstruksi di Indonesia.
Menurut Dimas Agim Jamiat, penggunaan teknologi AR memberikan gambaran yang lebih akurat kepada pekerja lapangan sehingga setiap tahapan pembangunan dapat dilakukan sesuai dengan rancangan awal.
“Melalui visualisasi langsung di lokasi proyek, potensi kesalahan dapat diketahui lebih awal sehingga pekerjaan menjadi lebih tepat, efisien, dan risiko rework dapat ditekan,” jelasnya.
Dalam proses pengembangannya, Tim Crystal memanfaatkan perangkat lunak Revit dan Navisworks untuk mengintegrasikan seluruh data proyek ke dalam satu sistem digital. Melalui metode tersebut, proses perhitungan volume pekerjaan, penyusunan jadwal konstruksi, hingga estimasi anggaran dapat dilakukan secara lebih cepat dan terstruktur.
Efektivitas inovasi tersebut diuji melalui simulasi pembangunan rumah tinggal tiga lantai dengan nilai proyek sekitar Rp5 miliar. Hasilnya menunjukkan peningkatan efisiensi yang cukup signifikan. Teknologi ini diproyeksikan mampu menghemat biaya proyek sekitar 11 persen atau setara Rp588 juta. Selain itu, waktu pelaksanaan juga dapat dipersingkat hingga 41 hari dibandingkan metode konvensional.
Dosen pembimbing Tim Crystal, Dr. Vani Arliani, S.T., M.T., menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan **Project-Based Learning (PBL)** mampu menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Ia menjelaskan, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata melalui pemanfaatan teknologi terkini. Dengan demikian, lulusan diharapkan siap menghadapi tantangan transformasi digital di sektor konstruksi.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa penguatan kurikulum berbasis teknologi akan terus menjadi prioritas kampus dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul.
Menurutnya, transformasi digital telah mengubah cara industri bekerja. Oleh sebab itu, perguruan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Prestasi Tim Crystal sekaligus menunjukkan bahwa karya anak bangsa memiliki potensi besar untuk mendorong modernisasi industri konstruksi nasional. Dengan memanfaatkan teknologi digital seperti Augmented Reality dan BIM 5D, proses pembangunan di masa depan diharapkan menjadi lebih cepat, akurat, hemat biaya, serta mampu meningkatkan kualitas hasil konstruksi secara menyeluruh.(Yopi)







































































