Laporan: Erwin Silitonga
Poskota.Net
JAKARTA| – Vihara Hemadhiro Mettavati menggelar Dialog Wawasan Kebangsaan Moderasi Beragama untuk menciptakan Persatuan bangsa, di Vihara Hemadhiro Mettavari, Jalan Kapuk Raya Gang Mawar, Jakarta Barat, Minggu 31 Oktober 2021.
Dialog ini diikuti oleh narasumber Bhante Khanit Sannano Mahathera (Sekjen DPP Walubi), Habib Muhammad Lutfi digantikan Muhammad Mardiono (Dewan Pertimbangan Presiden RI), Komjen Pol Muhammad Rafli (Kepala BNPT), Caliadi S.H ( Dirjen Binmas Budha Kementrian Agama RI), Waka Polres Metro Jakbar AKBP Bismo Teguh Prakoso, Kodim 0503 Jakarta Barat Kolonel Inf Dadang Ismail Marzuki S.I.P, Muhamamd Kodri, Spd (Ketua Panitia), Jandi Mukianto S.H, MH (Ketua DPD Walubi DKI Jakarta), Romo Asun G (MC), Romo Sulasman Mulyono, S.E, Mpd (Moderator).
Dirjen Binmas Budha Kemenag RI Caliadi menjelaskan bahwa bangsa kita bangsa yang besar yang terdiri dari suku, ras, Agama, sehingga moderasi agama sangat penting di Indonesia ini. Kalangan milenial memiliki peran penting sebagai agen moderasi beragama. Moderasi agama harus dibangun di kehidupan kita.

Karena keragaman umat beragama di Indonesia berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Sehingga dengan kita memeluk agama dan apapun suku etnis dll, harus saling mendengarkan satu sama lain dan harus saling memahami tanpa ada perbedaan satu sama lain.
“Harus mampu mengatasi perbedaan dalam beragama harus memahami perbedaan atau saling belajar mengatasi kemampuan berunat agama,” paparnya, saat melakukan pemaparan dialog
Caliadi menjelaskan, moderasi dalam beragama dapat terlihat melalui 4 indikator diantaranya adanya komitmen kebangsaan yang kuat, sikap toleran terhadap sesama, memiliki prinsip menolak tindakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal serta menghargai tradisi dan budaya lokal masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Calidai juga menerangkan tentang pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, dimana terdapat beragam masyarakat dengan latar belakang agama, sosial dan budaya yang berbeda-beda.
“Moderasi beragama merupakan konsepsi yang dapat membangun sikap toleran dan rukun guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” tuturnya.

Lebih jauh, Caliadi menguraikan tentang beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan guna menciptakan keberagaman yang inklusif.
Langkah tersebut di antaranya dengan memasukan muatan moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan, mengembangkan wawasan multikultural dan multireligius di kalangan masyarakat (pendekatan bottom-up), mengitensifkan dialog antaraumat beragama berbasis komunitas (community-based), dan melibatkan seluruh masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan sosial-ekonomi lintas budaya dan agama.

Sementara Dewan Pertimbangan Presiden Muhammad Mardiono dalam paparannya juga menyampaikan makna istilah moderasi dalam agama sebagai sikap tidak berlebihan dan penghindaran perilaku ekstrimisme berlebihan. Moderasi beragama mengembangkan toleransi aktif, yaitu sikap memberi, menerima, mengkakomodir dan bersedia membantu pihak lain.
“Sikap toleransi aktif juga menjadi salah satu dasar bagi kecerdasan digital, sehingga kecanggihan sarana digital yang digunakan dapat memberikan efek positif bagi pribadi seseorang maupun orang lain atau masyarakat luas,” ungkapnya,

Sementara Brigadir Polisi Ahmad Nurkwahid , S.E, MM Direktur Pencegahan BPNT mengatakan kita semua diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda, beda Suku,Ras,Etnis,Agama. Namun perbedaan itu jangan disalah artikan, sebab berbeda itu menjadi suatu persamaan.

” visi beragama cinta kasih, sehingga visi ini semua agama mengajarkan cinta kasih, misi beragama saling menghormati sesama manusia, jadi ajaran semua sama,” ucapnya saat memaparkan.
Red: Jun/Erwin






































































