Jakarta PosKota Net
7 Oktober 2026 Individu berkebutuhan khusus (IBK) masih kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap mereka memiliki kemampuan terbatas, selalu membutuhkan bantuan, dan hanya layak dikasihani. Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi Banyu, remaja berusia 17 tahun dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) yang terus menunjukkan semangat untuk berkembang.
Setiap hari, Banyu berusaha mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan positif. Aktivitas tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan motoriknya, tetapi juga membangun kemandirian, kepercayaan diri, serta kemampuan bersosialisasi. Banyu membuktikan bahwa individu berkebutuhan khusus memiliki potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh dukungan dan kesempatan yang tepat.
Saat ini, Banyu duduk di kelas X Sekolah Khusus Spectrum, Bintaro. Di luar kegiatan sekolah, ia juga menjalani terapi, mengikuti les akademik, serta belajar musik, seperti vokal dan drum. Beragam kegiatan itu menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembangnya sekaligus sarana bagi Banyu untuk menyalurkan minat dan energinya.
Pada akhir pekan, Banyu mengikuti sekolah modeling di Layak School yang berlokasi di Jakarta Selatan. Ia juga kerap dilibatkan dalam berbagai perlombaan maupun pertunjukan apabila ada kesempatan. Bagi keluarga, keikutsertaan Banyu bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan, melainkan untuk melatih keberanian tampil di depan umum dan memperluas interaksi sosialnya.
Orang tua Banyu menyadari bahwa dukungan keluarga memiliki peran besar dalam proses perkembangannya. Karena itu, seluruh anggota keluarga berusaha terlibat dalam memberikan motivasi serta mendampingi setiap aktivitas yang dijalani Banyu. Lingkungan yang penuh kasih sayang membuatnya lebih bersemangat dalam mencoba berbagai hal baru.
“Kami berusaha menyalurkan energi anak kami ke hal-hal positif yang bisa dia jalankan, sekaligus mengurangi efek-efek negatif seperti tantrum, flapping, ataupun membeo,” ujar ibunda Banyu. Menurutnya, setiap kegiatan yang dilakukan Banyu harus disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan kondisi anak.
Berbagai terapi, les, dan aktivitas yang dijalani Banyu tentu tidak langsung menunjukkan hasil dalam waktu singkat. Diperlukan kesabaran, konsistensi, dukungan, serta kasih sayang dari orang-orang terdekat. Perlahan, usaha tersebut mulai memperlihatkan hasil positif yang membanggakan bagi Banyu dan keluarganya.
“Kita semua berharap semakin banyak ruang dan kesempatan yang diberikan bagi seluruh individu berkebutuhan khusus. Semoga inklusivitas tidak hanya menjadi jargon yang digaungkan di mana-mana, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kesempatan untuk hidup setara dan dihargai secara utuh. Itulah harapan kami para orang tua IBK,” tutur ibunda Banyu menutup perbincangan.
(Anang f)







































































